Apakah Ujian Nasional Perlu Ada?

Setiap kali ujian nasional datang, rasanya kayak lagi menghadapi negara api yang datang menyerang. Rasanya dunia udah mau kiamat dan itu bikin kita belajar mati-matian sampai kepala pusing dan berasap. Emang sebenernya, buat apa sih ujian nasional? Dan apakah ujian nasional bener-bener, uhm, diperlukan?
Intinya, mirip kayak penggaris, semua jenis ujian itu dibuat untuk ngukur kemampuan seseorang. Jadi, UN itu ada biar semua anak Indonesia punya kemampuan yang setara. Tapi, apakah semua murid harus diukur pake penggaris yang sama? Apakah UN adalah cara terbaik buat mengukurnya? Dan, yang lebih penting, apakah UN perlu ada???
Jawabannya pasti… bermacam-macam! Tapi coba, kalau dibandingin sama negara lain, nyatanya sistem pendidikan itu beda-beda! Misalnya, ada negara-negara yang engga pake UN! Contohnya kayak… Finlandia. Beda sama Indonesia — yang musim ujiannya lebih sering dari musim rambutan, di sana ujian cuma satu kali aja buat masuk sekolah tinggi. Itu sama kayak Jepang yang ngeganti UN dengan ujian tes masuk sekolah dan universitas. Atau kayak Jerman yang ngebagi jenjang SMP jadi lima jenis sekolah biar muridnya bisa belajar sesuai minat dan kemampuannya, dan tentu aja, ngilangin sistem UN ini.
Tapiiii… ada ga sih negara yang UN-nya sama kayak kita? Jawabannya, ada! Misalnya kayak Tiongkok, yang jadi penggagas sistem UN, atau kayak Singapura, yang dengan dukungan kualitas guru jempolan dan akhirnya bisa dapet ranking nomor satu di bidang sains, membaca, dan matematika. Meski sama-sama ngadain UN, nyatanya kondisinya beda banget sama Indonesia yang bahkan skornya lebih rendah dari negara tetangga. Lantas, barangkali ada yang salah sama ujian nasional atau bahkan pendidikan kita, tapi apa masalahnya?
Jawabannya bisa jadi, banyak! Sama kayak atap bolong waktu hujan badai: soal dan kunci jawaban UN sering banget bocor! Belum lagi masalah kekurangan kertas soal, kualitas pendidikan yang timpang, dan yang paling utama, murid-murid yang stres berat akibat takut engga lulus sekolah dan akhirnya beramai-ramai beli contekan. Itu belum dihitung sama masalah lain seperti akses pendidikan yang sulit, perbandingan guru-murid yang rendah, kualitas pengajar yang belum merata, kurikulum yang berubah-ubah, sampai infrastruktur sarana belajar yang masih belum memadai.
Jadi, bisa dibilang UN bukan satu-satunya cara untuk mengukur atau bahkan ningkatin kualitas pendidikan. Untungnya, sejak tahun 2015 kemarin, pemerintah engga lagi bikin nilai UN sebagai syarat kelulusan. Meski begitu, ketika masih ada banyak anak di Indonesia yang bahkan sekadar dateng ke sekolah aja mesti melewati gunung dan lautan, keberadaan UN masih perlu dipertanyakan sebagai satu ukuran kualitas pendidikan. Karena artinya masih ada kesenjangan kualitas pendidikan dan semestinya itu yang harus diselesaikan. Keadaan ini yang bikin kita kembali ke pertanyaan awal, apakah ujian nasional itu masih diperlukan?
Pada akhirnya, perlu atau tidaknya UN masih diperdebatkan. Nah sekarang, kalau berandai-andai jadi pemerintah, apa yang akan kalian lakukan? Tapi yang paling mesti diinget, ujian itu bukan sekadar untuk lulus aja, tapi seperti kata ahli pendidikan ini, yang paling penting bukan ujiannya, tapi makna dibaliknya… Dan seperti biasa, terima kasih.
Referensi:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s